Latest Games :
Home » » Legenda Pulau Jemur

Legenda Pulau Jemur

Minggu, 14 April 2013 | 0 komentar

Kepulauan yang kini menjadi daya tarik populer di Provinsi Riau adalah Kepulauan Arwah di Kabupaten Rokan Hilir. Kepulauan yang terletak di Selat Malaka itu memiliki sembilan gugusan pulau dan merupakan bagian dari 92 pulau terdepan Indonesia.

Beberapa pulau di Kepulauan Arwah ialah Jemur, Pertandangan, Batu Mandi, Batu Adang, Batu Berlayar, Tokong Mas, Tokong Simbang, Labuhan Bilik, dan Tokong Pucung. Dari semua pulau tersebut, yang patut kita kunjungi karena keelokan aspek wisatanya adalah Pulau Jemur. Pulau Jemur yang konon disebut sebagai jamrudnya Selat Malaka memiliki luas 3,5 km persegi dan menjadi tempat pusat Kepulauan Arwah. Secara geografis dan administratif, Pulau Jemur termasuk wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Meski bagian dari Kabupaten Rokan Hilir, letak Pulau Jemur ini cukup jauh, sekitar 72,4 km dari Bagan Siapi-api dan 64,3 km dari Pelabuhan Klang di Malaysia. Pulau yang sekarang telah didirikan mercu suar dan pos TNI AL itu kerap menjadi tempat singgah para nelayan di sekitar Kepulauan Riau.

Tak heran jika aktivitas pulau itu relatif ramai ketimbang pulau lain. "Walapun jauh dari Bagan Siapi-api, kini mulai jadi tujuan wisata. Daya tariknya area konservasi penangkaran penyu, situs peninggalan kuno, serta cerita hikayat legendanya," ucap Solihin, salah seorang warga Rokan Hilir yang menjelaskan sekilas pesona Pulau Jemur. Lalu, apa yang menjadi daya tarik di Pulau Jemur? Pulau itu ternyata memiliki pemandangan yang cukup indah. Dari atas, pulau itu tampak diisi dengan vegetasi yang rapat berupa hutan pantai. Melihat pesona keelokan pulau itu, hati terasa sejuk meski berada di tengah lautan. Ekowisata Cagar Satwa Pulau Jemur dikelilingi pasir pantai yang cenderung berwarna kuning nan bersih. Air laut di Pulau Jemur cukup jernih dan merupakan tempat ideal bagi penyu meletakkan telurnya pada malam hari. Memang Pulau Jemur yang berada di gugusan Kepulauan Arwah ini telah dijadikan cagar satwa langka, terutama untuk dijadikan tempat penangkaran penyu.

Pulau Jemur yang dulu pernah dimasukkan peta pariwisata Malaysia itu memang memiliki habitat berupa penyu hijau (Chelonia mydas) yang khas dan tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia sehingga perlu upaya perlindungan tersendiri. Menyaksikan saat penyu bertelur adalah salah satu cara menikmati pulau itu. Dalam setiap kali bertelur, penyu hijau sanggup mengeluarkan 100 hingga 150 telur yang kemudian ditutup dengan pasir untuk ditetaskan. Karena dijadikan cagar satwa langka, di pulau itu terdapat pusat penangkaran penyu. Penyu itu ditangkarkan demi kelestarian populasi di habitatnya yang kian terancam. "Penangkaran penyu di Pulau Jemur ini dijadikan tempat ekoturisme oleh pemerintah daerah," ujar Solihin. Beberapa gugusan terumbu karang di perairan Kepulauan Arwah yang dangkal juga memiliki potensi untuk dijadikan titik selam dan aktivitas bahari seperti snorkelling. Formasi terumbu karang di sini masih asli, lestari, dan belum banyak dinikmati oleh pencinta pemandangan bawah laut. Selain pesona berupa penyu, di Pulau Jemur juga kita bisa mengunjungi mercu suar yang berdiri gagah, gua pertahanan Jepang, serta situs tapak kaki yang dipercaya sebagai tapak kaki orang sakti, perigi tulang, dan batu Panglima Layar. Meski tergolong cukup strategis letaknya, antara Riau dan Malaysia, industri wisata di Kepulauan Arwah, terutama di Pulau Jemur sebagai ikonnya, belum tergarap dengan baik.

Belum ada fasilitas penginapan. Jika berkunjung dan hendak menginap, tentunya kita harus mendirikan tenda atau menginap di pos TNI AL atau tempat penangkaran penyu. Meski sekarang belum tergarap, Pemerintah Daerah Rokan Hilir berencana menjadikan pulau itu sebagai tujuan ekoturisme dan wisata pendidikan. Untuk mendukung ambisi tersebut, pada 2012 ini, akan dibangun dermaga bagi kapal-kapal wisata. Saat ini, untuk mencapai pulau itu, pengunjung menyewa perahu nelayan atau speedboat dari Bagan Siapi-api. Perjalanan sejauh 72 km dapat ditempuh lebih kurang dua jam, bergantung pada kecepatan perahu dan kondisi cuaca. hay/R-3 Penyu Dijadikan Wisata Pendidikan Salah satu daya tarik Pulau Jemur adalah menyaksikan momentum penyu bertelur. Oleh karena itu, paket wisata tersebut akan dikembangkan sebagai atraksi wisata pendidikan lingkungan hidup. Di Pulau Jemur, sejumlah penyu hampir setiap malam naik ke pantai untuk bertelur. Pantai berpasir kuning di pulau itu menjadi tempat ideal bagi penyu untuk meletakkan telurnya sebelum kembali ke laut.

Kerena dikenal sebagai habitat penyu, Pulau Jemur dinamakan Pak-ku oleh para penduduk di pesisir Rokan Hilir. Arti dari Pak-ku adalah penyu dari udara. Sejauh ini, aspek kelestarian habitat bertelurnya penyu-penyu tersebut lumayan cukup terjaga dari tangan jahil karena keberadaan pos TNI AL. Namun, Pemerintah Rokan Hilir tetap melakukan kegiatan penangkaran untuk meningkatkan populasi hewan reptil laut berkerapas keras itu. Telur penyu yang berhasil menetas akan diletakkan dalam wadah khusus untuk ditangkarkan. Setelah umurnya menginjak 4-6 bulan, tukik (anak-anak penyu) hasil penangkaran tersebut dilepaskan ke laut. Memang diperlukan waktu penangkaran yang sangat lama agar penyu mampu bertahan di lautan dengan bermacam predator yang mengancam. Meski dapat bertelur dengan jumlah banyak, populasi penyu tidak bertambah banyak. Selain karena ancaman predator dan perburuan, penyu mendapat ancaman dari penyu itu sendiri. Menurut Anda Suriyadi, petugas penangkaran penyu di Pulau Jemur, ketika berada di penangkaran, tukik memang sering memakan temannya sendiri yang umurnya lebih kecil sehingga harus dipisahkan. Tukik harus diberi makan pagi dan sore dengan ikan laut secara rutin. Jika lalai, tukik dapat saling bunuh. Oleh karena itu, petugas tidak boleh malas dalam memberi makan agar penyu di Pulau Jemur semakin lestari dan menjadi modal daya tarik wisata. hay/R-3

Tidak Lepas dari Sejarah Pulau-pulau di Kepulanan Arwah secara tradisional telah dikenal para nelayan. Meski tidak berpenghuni, pulau-pulau itu sering dijadikan tempat nelayan singggah untuk menghindar dari badai yang tiba-tiba menyergap. Di pulau itu, aktivitas jualbeli ikan setiap hari terjadi antara nelayan dan tengkulak. Mereka adalah nelayan yang berada di pesisir timur Pulau Sumatra. Nelayan merasa aman berlindung di pulau itu. Selain memiliki semacam teluk bagi perahu untuk berlindung, adanya pos TNI membuat nelayan merasa aman di pulau tanpa penduduk tetap itu. Pos TNI dibangun untuk pertahanan. Apalagi pulau itu pernah masuk situs pariwisata Malaysia sehingga perlu dilindungi dari ancaman asing. Dari pantauan sejarah, pulau itu pernah masuk peta Kerajaan Siak Riau di daratan Sumatra. Oleh karena itu, pulau-pulau di Kepulauan Arwah dan Jemur juga memiliki legenda unik terkait dengan penyu dan keberadaan peninggalan fisik di sana. Dalam cerita legenda, disebutkan panglima dari kerajaan di wilayah Malaka terpesona dengan pulau itu ketika diutus mencari telur penyu untuk permaisuri.

Dia meninggalkan misi mencari telur penyu dan menetap di pulau terpencil itu. Panglima yang anonim itu, dalam cerita, harus mempertahankan Pulau Jemur dari serangan panglima Raja Siak dari daerah Kubu, Bangko, dan Tanah Putih. Di Pulau Jemur, terdapat jejak kaki yang dipercaya bekas lompatan Panglima Layar yang memiliki ilmu tinggi. Panglima itu sempat menguasai Pulau Jemur untuk beberapa lama dan terkenal susah ditaklukkan. Di Pulau Jemur juga terdapat perigi. Konon, perigi itu merupakan kuburan bagi jenazah korban Panglima Arwah. Panglima itu dikenal sering merompak kapal-kapal yang lewat. Korban perompakan dikubur dalam perigi yang sampai sekarang dengan mudah dapat dijumpai Pulau Jemur.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda.....!!!!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SYAMSUDDIN [Panipahan] - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger